Antara Aku Dan Cita-citamu

Ukhti, dua hari lagi ana akan kembali ke ma’had.

Pesan singkat itu terkirim ke ponsel ku tepat setelah aku selesai sholat isya. Nama seorang ikhwan terpampang di atas pesan itu. Dari dia. Teman satu kajian ku. Aku mengeryitkan dahi. Untuk apa dia sampai memberitahukan hal yang tak penting menurut ku.

 

”Iya, semoga di sana berkah, amiin.”

Ku balas pesan itu. Singkat, tak berembel-embel. Setelah itu ku letakkan HP di atas ranjang, bersebelahan dengan tempat duduk ku. Ku ambil buku yang tadi sempat terputus membacanya karena jeda sholat. Buku bercover ungu kebiruan dengan judul buku berjenis huruf comic sans MS. Dalam waktu singkat, aku telah kembali berlayar menyusuri kata per kata yang membuai dalam buku itu. Kisah Cinta Ali Kepada Fatimah.

 

Jalan mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Ia mempersilahkan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Bagi para pecinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

 

Aah, begitu indah sang penulis meliuk-liukkan kata-katanya hingga terlihat kisah ini semakin membahana. Aku takjub dengan Ali. Begitu indah beliau melukiskan bentuk cintanya. Sebuah pesona keikhlasan yang agung tersemat dari pengorbanannya. Pula sebuah konsekuensi yang berat dari keberaniannya. Tak jauh berbeda dengan Fatimah. Ungkapan cinta yang hanya Allah saja yang tahu. Keindahan cinta dalam diam mampu menjadikan dia sosok muslimah tangguh yang menawan. Kekokohan menyimpan isi hatinya membuat sejarahnya elok dikenang jaman. Masih adakah orang-orang seperti keduanya? Si Ali yang gagah menawan. Dan Fatimah yang elok rupawan. Bila ada. Alangkah bahagia pasangannya.

 

Aku tersenyum geli menyadari apa yang baru saja aku pikirkan. Ada-ada saja. Namun hal ini tak bisa aku menafikan, ikhwan mana yang tak mau beristri Fatimah? Dan akhwat mana tidak ingin bersuamikan Ali?

 

Sedang asyiknya bergumul dengan pikiran ku. Ponsel ku kembali berbunyi. Tanda satu pesan diterima. Kembali dari dia.

 

”Tapi, ana masih ingin di sini. Entah kenapa ana ingat dengan anti.”

Aku melongo membaca pesan singkat darinya. Apa maksud dia mengirimi ku kalimat seperti itu? Ku rasa dia tahu, bahkan ku yakin dia sangat faham. Betapa sensitif dan rentannya kalimat yang baru saja dia kirim. Aku menarik napas perlahan. Khilaf. Sangat wajar bila mungkin dia sedang khilaf. Meskipun dia seorang yang ‘alim. Aku sadar dia adalah manusia biasa.

 

“Apa yang sedang antum pikirkan?”

Aku bermaksud menanyakan makna tersurat dari maksud tersirat kalimatnya. Aku sangat berharap dia segera memahami kekeliruannya. Lama ku tunggu tak juga ada balasan. Aku berusaha menenangkan hati dengan melanjutkan membaca buku. Sayangnya, isi ceritanya ku rasa tak semenarik tadi. Pikiran ku tak fokus lagi. Terpecah karena pesan singkat yang dikirim olehnya.

 

Lima belas menit berlalu. Pesan balasan ku terima. Dengan sigap aku membukanya.

”Afwan Ukhti”, begitu dia mengawali kalimat dalam SMS itu. ”Setelah muroja’ah selepas maghrib tadi. Ana tiba-tiba ingat dengan anti. Ana tidak berpikir apa-apa. Sungguh ana juga tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Ana belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.”

Sekali lagi, aku menarik napas panjang. Belum sempat aku membalas pesan untuknya. Kembali ponsel ku berbunyi. Satu pesan lagi masuk.

“Ukhti, ana akan bicara dengan Ustad ana juga orang tua ana. Ana akan mengkhitbah anti. Itu pun jika anti besedia. Bagaimana Ukh?”

 

Langsung lemas tubuh ku membacanya. Rasanya badan ku menjadi ringan. Di sekelilingku seakan berputar. Pusing. Ku rebahkan badan ku perlahan. Allahu Akbar. Lirih. Ucapan takbir mengalun lemah dari lisan ku.

Aku harus menjawab apa? Sejujurnya, tiada alasan untuk menolak ikhwan sesoleh dia. Akhlaknya pun tak perlu diragukan lagi. Tapi entah mengapa, hati ku masih diselimuti keraguan. Terbayang kata-katanya tempo dulu. Aku harus belajar yang fokus. Umat sedang menunggu ku. Begitu dengan tegas dia mengatakannya. Iya, dia adalah harapan umat. Amanah besar ada dalam genggamannya. Apakah aku akan menghancurkan cita-cita mulianya?

 

Jika setelah proses khitbah, kami langsung menikah, aku takut konsentrasinya akan terpecah. Antara menuntut ilmu dan menafkahi keluarga. Kondisi ini pun dipersulit dengan statusku yang masih menjadi mahasiswa. Kedua orang tua ku akan menyatakan keberatannya bila ku ungkapkan keinginanku untuk menikah. Tak ingin ku lihat ada raut kecewa dari wajah keduanya. Aku tidak mau itu terjadi. Dan bila pernikahan kami ditunda sampai kami menyelesaikan studi. Itu pun tidak aku inginkan. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui masa depan kecuali Allah. Dan lagi pula aku tidak ingin hati kami berpenyakit dalam masa penantian.

 

Sungguh berat. Hati ku galau. Pikiran ku tak karuan. Tapi aku harus memberikan jawaban cepat. Perlahan, aku mulia menekan tuts-tuts HP. Merangkai kata-kata menjadi kalimat. Mengetik sebuah jawaban yang kurasa paling tepat. Paling tidak, tepat dalam pandangan ku.

”Afwan Akh.” Aku mulai merangkai huruf per huruf. Aah, benar-benar sulit untuk melanjutkan kata-kata. Tapi ini harus!

 

”Ana yakin, cinta antum kepada ana tidak melebihi cinta antum kepada-Nya. Dua hari lagi antum akan pergi ke ma’had. Jangan perberat langkah antum menuntut ilmu dengan cinta antum kepada ana. Ana ingin antum fokus belajar tanpa memikirkan apa-apa. Umat sedang menunggu kiprah antum dalam berdakwah. Jadilah penolong agama Allah. Hingga nanti, siapa pun yang menjadi bidadari antum akan bangga diperistri seorang jundillah yang berjuang menegakkan agama Allah.”

 

Selesai mengetik. Tanpa ragu langsung ku pilih send di option pilihan. Loading. Pengiriman pesan sedang berlangsung. Tak lama kemudian, pesan terkirim. Dada ku sesak. Rasanya paru-paru ku kering tanpa oksigen. Ku hirup udara sebanyak-banyaknya. Dan mengeluarkannya perlahan. Ku ulangi beberapa kali.

 

Tak sampai sepuluh menit, ada SMS balasan.

”Iyaa Ukh, ana akan coba terima dan berpikir lagi. Afwan, ana terlalu jujur tentang hati ana. Mungkin ini adalah tipu daya syetan yang hendak melemahkan niat dan cita-cita ana. Ana berlindung dari hal-hal yang semacam ini. Lagi pula, apalah arti cinta tanpa sahutan yang pasti.”

 

Aku terhenyak dengan kalimat terakhirnya. Harus bagaimana lagi aku menjelaskan. Ku rasa dia lebih faham akan hal ini.

”Mudah bagi Allah untuk menyatukan sesuatu jika Dia telah berkehendak. Simpan cinta antum. Ada yang hal yang lebih besar yang harus antum capai, yaitu cita-cita antum. Afwan, ana juga tidak bisa memberikan kepastian karena ana tidak mengetahui masa depan.”

Hening. Tak ada tanda-tanda adanya pesan balasan. Mungkin dia sedang berpikir. Mungkin juga bersedih. Apakah kata-kata ku terlalu keras?

Maafkan aku yaa Allah, aku tidak tahu mana yang terbaik menurut Engkau. Aku hanya melakukan apa yang menurut ku baik. Air mata ku perlahan jatuh. Ada perasaan bersalah yang menghinggapi hati. Menusuk-nusuk perih. Aah.

 

Setelah malam itu. Hari-hari ku lalui seperti biasa. Sesekali aku mengingatnya. Maju mundur perasaan masih menghantui ku. Dari segala hal aku memang merasa belum siap. Tapi pada hal lain. Aku merasa aku ..... aah entahlah, hanya Allah yang tahu pasti apa yang aku rasakan saat ini. Hingga di suatu pagi yang sedikit berawan. Sebuah pesan masuk ke ponsel ku. Darinya.

 

”Assalamu’alaikum. Ukh, terima kasih atas nasehat anti tempo dulu. Ana sekarang sadar umat sedang membutuhkan ana. Keinginan pribadi harus ana kesampingkan demi kepentingan umat. Ana akan menikah. Dengan akhwat pilihan ustad ana. Dia sekarang sedang ma’had di jakarta.”

 

Bagaimana perasaan ku saat itu? Aku merasa menjadi akhwat paling rugi sedunia. Rugi karena telah menyia-nyiakan seorang ikhwan sesoleh dia hingga ”direbut” oleh akhwat lain. Aku sedih. Mengapa aku tidak mengambil kesempatan ketika Allah memberikan peluang pada ku? Aah, ini adalah takdir Allah. Aku berusaha tegar. Akhwat itu memang lebih cocok dengannya. Padanannya serasi. Mereka sekufu dalam hal agama.  Dan aku harus menerimanya. Bukankah setiap pilihan ada konsekuensi. Mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Dan aku telah mengambil pilihan kedua. Mempersilahkan. Konsekuensi ku adalah sebuah pengorbanan.

Pesan itu kembali kubaca.

”Ukh, ini sekaligus undangan untuk anti. Akad nikah akan dilaksanakan dua minggu lagi di masjid Ar-Rahman jam 11 setelah pengajian. Doakan ana ya.”

 

Lama ku terdiam. Setelah menarik napas panjang beberapa kali. Ku beranjak sholat. Menenangkan pikiran dan hati. Ku yakin ini adalah takdir Allah yang paling baik untuk ku. Akan ada hikmah yang bisa ku ambil setelahnya. Selesai sholat ku balas pesan itu. Alhamdulillah, barokallah. insyaAllah jika tidak ada kendala ana akan datang.

 

Cinta memang sebuah pilihan. Mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Yang pertama adalah keberanian. Yang kedua adalah pengorbanan. KARENA CINTA TAK PERNAH MEMINTA UNTUK MENANTI.

 

**SELESAI**

-True story-

Posted in cerpen. 1 Comment »


Syuhada Kecil, Anak Ku

 Malam semakin pekat. Dibalut dingin yang hampir-hampir membekukan sum-sum tulang. Sunyi. Hawa kematian masih menggelayut di langit kota. Gaza. Kota itu kini laksana kota mati. Hening tanpa suara berselimut bau anyir darah. Israel kembali melakukan aksi biadabnya. Bom-bom menukik tajam menghantam apa saja. Meluluhlantakkan gedung-gedung. Merenggut nyawa-nyawa kecil tak berdosa. Tumbang sebagai syuhada diiringi takbir keluarganya.

 

Di sebuah lorong yang sempit lagi pengap. Bertemankan cacing dan tikus. Bergelimangan genangan air bekas hujan. Gelap, tak ada cahaya. Dua sosok tubuh lemah duduk bersender di dinding lorong. Saling berpelukkan. Napasnya tersengal ketakutan. Badan keduanya menggigil tersengat dinginnya angin malam. Sangat kontras dengan kehidupan di bumi lain yang sedang nikmat tidur di kasur yang empuk. Bantal permadani. Berselimut mimpi. Indah. Di sini, tanah yang tergenang itulah sebagai alas tidur. Bantal mereka adalah tangan-tangan yang penuh luka. Mimpi mereka adalah ketakutan. Ingin rasanya segera beringsut dari mimpi itu. Namun, ternyata dalam sadar pun tetap sama saja.

 

Kedua sosok itu adalah Ummu Sulaiman dan anaknya yang berumur 5 tahun. Tak kurang 8 jam mereka menunggui lorong sempit itu. Sejak maghrib. Hampir semalaman. Ummu Sulaiman terus memeluk anaknya erat. Sesekali Ia mengganti balutan luka di kaki Sulaiman dengan robekan kain dari pakaian yang dikenakannya. Bermaksud menghentikan darah. Meski semua itu terlihat sia-sia. Darah di kaki itu tetap saja mengalir. Merembes, memerahkan kain balutan.

Sulaiman hanya diam. Tak sedikit pun ia mengerang sakit. Lemah. Darahnya sudah terlalu banyak mengalir. Perlahan Ia mendekati ibunya. Memegang wajah wanita separuh baya itu. Tangannya bergerak menghapus air mata sang bunda.

 

”Ibu, jangan menagis.” Pintanya lemah. Wajah Ummu Sulaiman terangkat. Lekat-lekat dipandangi wajah pucat anaknya. Ada senyum yang hampir memudar.

 

”Bukankah Ibu pernah bilang, Allah selalu membantu kita? Sulaiman yakin, Dia tidak tidur. Dia sedang melihat kita. Kita hanya perlu sedikit lagi bersabar.”

 

Deg. Kata-kata itu mengena tepat dihatinya. Betulkah ini kalimat yang keluar dari bocah berusia 5 tahun? Ummu Sulaiman kembali mendekap anaknya. Allah, ku tahu janji-Mu pasti. Lirihnya.

 

Waktu berjalan terasa lambat. Dipegangnya tangan Sulaiman. Semakin dingin.

”Anak ku, bertahanlah. Ibu yakin Sulaiman anak yang kuat.” Desahnya pelan ditelinga anaknya. Sulaiman tersenyum. Semakin dingin dan pucat.

 

”Ibu, tolong ceritakan padaku tentang syurga.” Ummu Sulaiman tak hendak menolak permintaan anaknya. Ia mulai bercerita tentang syurga. Tempat tujuan semua makhluk-Nya.

 

”Syurga. Tiada kesedihan di dalamnya, yang ada hanyalah kesenangan dan kenikmatan.”

 

Ia terdiam sesaat. Mengatur napas. Sebelum kembali menggambarkan syurga. Sulaiman diam. Menyimak cerita ibunya dengan sisa-sisa kesadarannya.

 

“Ibu, apakah di syurga Sulaiman akan bertemu Ayah?”

Ummu Sulaiman tercekat mendengar pertanyaan anaknya. Ia menarik napas panjang. Dadanya bergetar hebat. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Ia menjawab lirih. Iya.

Sulaiman kembali tersenyum. Kini senyumnya merona. Bahagia.

 

”Teruslah bercerita, Bu.” Kembali Ia meminta. Ummu Sulaiman pasrah. Ia menuruti kehendak anaknya. Walau pikirannya sudah tidak fokus lagi.

 

“Di dalam syurga terdapat pohon-pohon dan buah-buahan yang mampu dipetik dari jarak dekat. Sungai-sungai yang mengalir indah.”

Ummu Sulaiman tak melanjutkan ceritanya. Hening.

"Sayang, sudah tidurkah?" Tanyanya perlahan.

Tak ada jawaban. Dipegangnya tubuh Sulaiman. Dingin. Perasaan tak sedap langsung menyeruak. Tanganya bergetar. Ia raba dada anaknya. Memegang pergelangan tangan. Mencari denyut jantung. Tidak Ia temukan. Ia tak putus asa. Digoncangnya tubuh Sulaiman.

 

“Anak ku, Sulaiman dengar Ibu? Bangun, Nak.” Suaranya tertahan, hampir tak terdengar. Ia kembali meraba dada anaknya. Mencari detak-detak kehidupan.

”Aaah, tidak Sulaiman. Ibu yakin kau dengar Ibu. Ayoo, bangun, Nak. Ibu belum selesai menceritakan syurga.“

Sia-sia. Tubuh kecil itu telah kaku. Berhias senyum yang indah, seakan deritanya telah sirna.

Mata Ummu Sulaiman berkaca-kaca. Namun Ia tahan-tahan. Ia tak mau menangis. Anaknya tak menginginkan Ia menangis.

 

Di tempat lain, Sulaiman memandangi ibunya. Maafkan Sulaiman Bu, Sulaiman ingin bertemu ayah di syurga.

”Duhai malaikat, bersediakah kalian mengantarkan ku menemui Ayah?”

 

=Selesai=

Desember 1987- 2010, INTIFADHA. Perjuangan kita belum usai kawan.

Posted in cerpen. 0 Comment »

I’m A Palestinian

 “Alhamdulillah, dia telah menunaikan kewajibannya.”Bisiknya serak namun tegas. Air matanya menetes, bangga. Senyumnya mengembang. Hatinya bergemuruh, mengalunkan syukur tiada henti.Muhammad Luthfy Al-Farisy, dua puluh dua tahun. Anak semata wayang telah syahid, insyaAllah. Tiada kebahagiaan tertinggi seorang ibu selain mendengar anaknya syahid membela agamanya.


Surat dari Palestina itu menjadi bukti anaknya telah tiada. Subhanallah, ketika kematiannya, tubuhnya mengeluarkan wangi yang semerbak dan darahnya terus mengalir. Begitu isi lanjutan surat itu. Tak bisa menahan haru, air mata Nisa perlahan menetes. Pikirannya yang mulai rapuh kembali mem-flashbackvideo kehidupan dua puluh empat tahun yang lalu, saat ia menjadi relawan ke Negeri Para Syuhada, Palestina. Waktu dimana Allah mempertemukannya dengan seorang mujahid yang kemudian menjadi suaminya. Perjalanan takdir yang sungguh luar biasa meski tak berlangsung lama. Harus berakhir, saat ia mengandung Luthfy satu bulan.

Masih jelas pesan terakhir suaminya, jika aku syahid maka kembalilah ke Indonesia, didik anak kita agar menjadi singa Allah. Derai air mata melepas kepergian pemuda Palestina yang baru tiga bulan menjadi suaminya. Hatinya tetaplah berombak. Nisa bukanlah wanita Palestina yang telah terbiasa dengan perpisahan. Ia adalah wanita Indonesia yang berhati lembut. Tangisan itu menunjukkan kelembutan hatinya.
Desember kelabu tahun 1987, pagi yang dingin dan sepi. Pekikkan takbir menggema seantero Palestina menandai intifada pertama yang men-syahid-kan suami bersama seribu lebih rakyat Palestina lainnya.

***

Di Indonesia, tak mudah ia menjadi sosok single parentbagi Luthfy. Menjadi sosok ayah dalam mencari nafkah, sekaligus menjadi ibu yang berhati lembut. Dua perbedaan kontras yang mau tidak mau harus berkolaborasi di dalam dirinya. Ditambah masa lalu yang begitu membekas tak mungkin begitu saja hilang dari memori otaknya. Hari kian berlalu, biru langit tak bertiang masih setia menemani kesendirian Nisa membesarkan sang putra semata wayang. Sebenarnya, beberapa pemuda sholeh telah datang untuk meminangnya. Namun, dengan halus ia tolak. Aku ingin menjadi istrinya di dunia dan akhirat, begitu alasannya.

Tujuh Agustus 1993.
Luthfy tepat berusia lima tahun. Di usianya itu, Ia telah berhasil menghapal 7 juz Al-Qur’an. Ia pun tumbuh menjadi sosok anak yang cerdas dan ceria. Apalagi saat ini ia telah menjadi salah satu siswa di Taman Kanak-Kanak di kota kecil tempat asal ummu-nya, Nisa. Di kelas, Luthfy memang terlihat berbeda dari teman-temannya. Mulai dari perawakan, dan sikap. Secara fisik, dia memang lebih mirip abu-nya, Ahmad, suami Nisa. Awalnya, Luthfy tak terlalu perduli dengan perbedaan itu. Namun, akhir-akhir ini ia mulai merasa memang ia berbeda dengan teman-teman sebayanya. Ditambah ejekan temannya, bahwa ia lahir tanpa ayah. Sungguh beban mental yang sangat berat bagi anak seusianya.
”Ummu, Abu Luthfy mana? Kenapa tak pernah pulang?” Akhirnya ia mengungkapkan kegelisahan yang berkecamuk itu kepada Ummu-nya. Nisa terdiam sesaat. Dipandanginya anak satu-satunya itu dengan seksama. Sudah saatnya ia tahu kebenaran itu, hatinya membatin.

”Sayang, Abu Luthfy telah istirahat dengan tenang di tempat yang sangat indah. Luthfy mau ketemu Abu?”
”Iyaa, Ummu. Luthfy mau ketemu Abu terus bawa Abu pulang biar bisa Luthfy kenalin sama teman-teman Luthfy.”
Polos sekali kata-kata yang keluar dari anak usia lima tahun itu, sepolos hatinya yang masih putih tak bernoda. Nisa terhenyak. Di elusnya kepala Luthfy dengan lembut. Ia mulai bercerita tentang sebuah negeri legenda. Negeri para Mujahidin. Bumi para Nabi. Palestina. Ia pun bercerita tentang semangat perjuangan dalam membela sebuah kebenaran yang hakiki. Terkadang ceritanya terselip nada kebencian. Benci kepada kedzaliman. Benci yang mendarah daging terhadap zionis laknatullah. Luthfy menikmati alur cerita itu dengan sesekali bertanya. Ia tampak antusias.

“Sayang, di dalam darahmu mengalir darah yang mulia. Darah seorang pejuang yang syahid demi membela apa yang diyakininya.“
Cerita itu di tutup dengan apik oleh Nisa, menyelipkan sekuntum bangga dan semangat yang berkobar dalam hati Luthfy. Bangga karena tahu abu-nya adalah seorang pejuang kebenaran.

“Ummu, Luthfy ingin seperti Abu.“ Ucap Luthfy bersemangat. Hati Nisa berdesir halus. Ketegasan ucapan Luthfy mengingatkannya kepada sosok Mujahid yang sangat ia cintai, Ahmad. Cara Luthfy menyampaikan sesuatu begitu mirip suaminya. Tanpa terasa air matanya perlahan jatuh. Perjuangan ini baru dimulai, begitu bisik hatinya. Iyaa, perjuangan menjadikan Luthfy seperti apa yang diinginkan suaminya. Menjadi Singa Allah.
Hari berlalu, bulan berganti, dan tahun pun terlewati meninggalkan kenangan yang luar biasa. Luthfy semakin tumbuh besar. Kini usianya 21 tahun. Usia yang bagi yang lain adalah usia dimana sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Pusing tentang impian masa depan. Mencari kehidupan hedon yang menyesatkan berbalut kebahagiaan sesaat. Namun tidak untuk Luthfy.
Pagi itu, embun tak hendak beranjak dari pandangan mata. Setelah melenturkan otot dengan thifan-nya. Luthfy menemui Ummu-nya. Besok ia bersama kelima temannya akan berangkat ke Palestina, negeri impiannya.
”Ummu, berangkatnya besok.” Luthfy mengawali percakapan. Nisa tersenyum.
”Ummu tau, Nak. Berangkatlah dengan niat karena Allah.”
Luthfy tersenyum, dipeluknya ummu-nya itu dengan lembut. Dulu, ummu-nya lah yang memeluknya ketika ia membutuhkan ketenangan. Pelukkan ummu adalah penawar rasa takut yang mencekam. Rasa itu masih ada sampai sekarang. Pelukkan ummu masih nyaman dan akan selalu nyaman baginya.
”Ummu, jika aku tak kembali. Sesungguhnya Allah telah mempersiapkan pertemuan terindah untuk kita bersama Abu.”
Nisa menangis mendengar ucapan anaknya. Allah, sungguh jika bukan karena-Mu. Aku tak akan rela melepaskannya walau sekejap. Sekarang Ia menjadi milik-Mu, prajurit-Mu yang akan membela syariat-Mu. Aku serahkan ia kepada-Mu. Hatinya membatin, sesak namun damai. Damai karena ia telah bertransaksi kepada Robb-nya, Allah.
”Ummu meridhoi mu, Nak. Jadilah Singa Allah yang mengaum meluluhlantakkan kedzoliman. Ish kariman au mut syahidan.”
Perpisahan yang mengharukan. Namun inilah awal pertemuan yang membahagiakan.

***

Isaknya semakin menjadi. Memori itu masih jelas membayang. Surat itu di pegangnya erat. Ia terduduk. Tak mampu lagi membaca surat itu hingga akhir. Napasnya sesak. Sesak oleh kebahagiaan yang tidak terkira. Anak dan suaminya telah syahid, insyaallah. Pandangannya tiba-tiba gelap.
Bruukkk...
Tubuhnya ambruk ke lantai. Matanya perlahan terpejam. Hawa dingin menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Ia diam dan kaku.
Allah, tugasku telah usai. Lirihnya perlahan.

 

Posted in cerpen. 1 Comment »

Tanpa Judul

 Hanya bukit-bukit kesabaran yang berusaha ku daki.

Hanya bukit, karena kesabaran ku tak setinggi gunung yang kokoh menjulang.

Tertatih berusaha menerjemahkan takdir.

Inikah jalannya? Atau hanya sekedar pelengkap sandiwara dari Sang Sutradara langit?

 

Meski jenuh menggerayang.

Walau hati kelu membayang.

 

Himpunan syaraf otak ku melepuh.

Benarkah serumit ini?

Aku takut berkamuflase dengan angan yang meyesakkan.

Namun menyendiri di sini tak mampu membuat ku lebih baik.

 

Apa yang aku pikirkan.

Apa yang aku inginkan.

Bagai melihat fatamorgana di panasnya padang sahara.

 

Aarghhh,,,

Inikah ujian untuk mendapatkan predikat kedewasaan?

Aku ingin pulang.

Memeluk Ratu Hati, mengadukan segala keluh di sini.

Bunda, aku rindu T.T

Posted in puisi. 4 Comment »

Ramadhan Terakhirku

 Hujan masih menyisakan rinai gerimis. Pucuk dedaunan mangga di samping kamar kosku berpoles air hampir seharian ini. Langit menghitam, tak terlihat satu pun hewan bersayap melintas di bawahnya. Angin menelusup masuk melewati jendela yang sengaja ku buka. Ku lirik jam di laptop bututku, 4.21 PM. Sore yang pekat. Aku sendiri masih mengotak-atik laptopku, menulis apa saja yang ingin ku tulis seraya sesekali membuka facebook sekedar menanggapi komentar para sahabat atau hanya membaca-baca artikel yang ku temui di beberapa situs.

 

Ini hari ke-5 Ramadhan, awal Ramadhan yang seharusnya ku habiskan bersama orang-orang tercinta, keluargaku. Tapi sayangnya, semua hanya angan yang harus ku pendam sejauh mungkin. Tuntutan kuliah mengharuskan ku tetap tinggal disini. Walau tetap merasa iri dengan teman-teman kos ku yang masih melanjutkan liburan semester genapnya di rumah masing-masing. Aah, terlepas apakah ini baik atau buruk, haruslah tetap disyukuri.

 

Hujan di luar tampak semakin menunjukkan eksistensinya. Perlahan ku tutup semua windows yang hampir sesiangan ini menemani ku. Setelah meng-turn off laptop. Ku bergegas berganti pakaian, baju coklat, dipadu rok dan kerudung hitam. Tak butuh waktu sepuluh menit, aku telah siap. Perlahan ku buka pintu kamar, suara berderek pintu terasa sekali di suasana kos yang sepi. Ku ingin membeli martabak keju yang berada di seberang jalan kos ku untuk berbuka juga lauk untuk saur nanti.

 

Dengan memakai payung, kuberanikan diri menerobos hujan. Ku tahu, konsekuensinya adalah badan ku akan panas dingin setelah terkena air hujan. Aneh, penyuka hujan yang tak tak bisa kehujanan, gerutu ku dalam hati. Tak begitu lama, aku telah berada di bibir jalan raya yang memisahkan ku dengan tempat menjual martabak. Setelah meyakinkan jalanan sepi dari lalu-lalang besi berjalan. Kaki ku mulai mejejak muka jalan yang licin.

Tiba-tiba…

 

“Awaaasssssssssss”

 

Hanya teriakan itu yang bisa ku dengar setelah mobil kijang berwarna hitam menerobos jalanan dengan kecepatan tinggi. Ku merasakan kaki ku sakit sekali. Tubuhku tiba-tiba ambruk. Perlahan semua menghitam.

"Allah, apakah ini Ramadhan terakhirku?"

Dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Posted in cerpen. 2 Comment »